Perkara Cinta

Beberapa waktu yang lalu saya  membaca sebuah kisah panjang yang rumit. Adalah seorang laki-laki kaya raya, memiliki istri cantik sangat dia kasihi. Walaupun kaya, pasangan ini beberapa kali hidup berpindah-pindah. Diantara perpindahan itu, ada dua daerah yang ditakuti oleh suaminya. Kemudian sang suami membuat siasat agar hidupnya aman, yaitu dengan mengatakan bahwa istrinya adalah adiknya, kemudian membiarkan istrinya diambil untuk ditiduri oleh pemimpin daerah tersebut.

Hal mengherankan selanjutnya adalah sang istri tidak berespon apa-apa. Dia tunduk, dia turut. Sebagai seorang perempuan, sulit membayangkan posisi seperti ini. Pastilah sangat terluka, tetapi tidak ada drama, tidak ada tangisan. Perempuan itu lakukan perintah suaminya. Bbagaimana ya perasaan perempuan ini, mungkinkah terluka. Mungkinkah tidak, tetapi tidak ada keterangan. Bisa jadi ketiadaan keterangan punya makna ganda. Pertama, perasaan perempuan itu tidak penting untuk dijelaskan atau dia memang lakukan perintah suami tulus hati sebagai bakti kepada suaminya.

Setelah dua kali menyerahkan istrinya kepada laki-laki lain, kisah ini berlanjut dengan fakta bahwa perempuan itu mandul. Karena mandul dia menyuruh suaminya tidur dengan perempuan lain, yaitu pembantunya. Apakah ini pembalasan dendam? Bukan. Dia menyerahkan pembantunya adalah semata ingin suaminya punya keturunan. Kacau, suaminya mau meniduri pembantu tersebut.

Kisah ini seakan mencapai klimaks. Pembantu itu akhirnya mengandung, kemudian merasa diri lebih tinggi dan memandang rendah majikannya. Ada sedikit drama, istri sah mengadu kepada suaminya, suaminya merespon dengan acuh dan berkata kuasa terbesar berada pada istri. Menurut suami apa pun yang istrinya buat adalah sah karena sang istri berkuasa atas pembatu itu. Seolah mendapat persetujuan, istri sah menyiksa pembantu yang sedang mengandung. Penyiksaan ini pastilah sangat kejam karena dituliskan, sampai pembantu itu lari dari rumah menuju padang gurun yang panas.

Kisah ini sangat berbeda dengan drama abad 21 yang biasa kita tonton. Biasanya di dalam drama, pembantu inilah yang akan jadi pemeran utama. Peristiwa ketika dia disiksa dan lari ke padang gurun akan menjadi scene yang menyebabkan derai air mata apalagi kalau diiringi musik melankolis dan efek dramatis lainnya. Bila kisah ini difilmkan pastilah kita berpihak pada pembantu yang telah terluka tersebut. Justru suami dan istri tersebut tidak cocok menjadi pemeran utama karena sikap dan respon mereka bukanlah sikap ideal dari pemeran utama. Suami dan istri dalam kisah ini sama-sama kejam.

Tetapi apa yang diceritakan selanjutnya sangat berbeda dari perkiraan kita. Hidup pembantu itu tidak menjadi cerita mayor, kisahnya menjadi minor di dalam keseluruhan cerita. Suami dan Istri yang buruk dalam pembuktian cinta ini, tetap menjadi tokoh mayor. Saya hilang akal dan terheran-heran pada Penulis kisah ini (Karena memang akal saya tidak dapat sampai padaNya).

Nama Suami itu adalah Abram yang kemudian berubah menjadi Abraham, nama istrinya adalah Sarai yang kemudian berubah menjadi Sara, nama pembantu itu adalah Hagar. Kisah ini dapat kita baca dalam kitab Kejadian. Kisah cinta yang rumit dan jahat ini dituliskan dalam Kitab Suci.

Setelah tuntas membaca keseluruhan kisah hidup pasangan ini, saya sadar, bahwa bukan mereka yang menjadi fokus keseluruhan kisah. Penulisan kisah ini hendak menunjukkan bahwa janji yang pasangan ini terima tetap dijalankan walaupun mereka jahat. Bahwa Tuhan tidak bergantung pada kesetiaan pasangan suami-istri ini. Dia setia kepada janji-Nya dan janjiNya tidak dapat dibatalkan oleh apa pun, bahkan oleh dosa sekalipun.

Saya sungguh kagum akan kisah ini. Abraham yang mencari aman tanpa bertanya Tuhan dan Sara yang tidak percaya janji Tuhan, justru mendapat penyataan kemurahan yang besar. Allah tidak hilang dan menyimpang dari janji yang telah Dia berikan. Dia setia dan terus setia, Tuhan tidak bergantung kepada kesetiaan Abraham dan istrinya, terbukti dengan lahirnya Isak. Dialah Allah yang tidak bergantung pada manusia, kasih Nya sangat sempurna dan tidak berdasar untung-rugi.

Mari baningkan praktik-praktik atas nama cinta yang kita lakukan pada masa kini. Mungkinkah Abraham dapat melakukan hal yang demikian kepada Sara karena hal itu lumrah, menyerahkan Istri demi keamanan diri adalah hal yang biasa dan wajar dilakukan pada masa itu, sebab seorang istri adalah hamba bagi suaminya, sehingga melakukan permintaan suami adalah hal wajib. Lalu melihat apa yang dilakukan Sara, membuat saya berpikir bahwa menyerahkan seorang budak perempuan yang istri miliki kepada suami adalah hal biasa (kerena Lea dan Rahel pun demikian), mungkin praktek ini biasa dilakukan oleh orang Mesir atau orang Kanaan, atau orang yang tinggal di dekat lingkungan mereka pada masa itu, sehingga Abraham dan Sara menyerap pola tersebut. Entahlah. Tetapi satu hal pasti adalah Allah tidak menghendaki hal ini. Dia ciptakan SATU Adam dan SATU Hawa. Kesesatan-kesesatan dalam praktik cinta dan berumah tangga yang terjadi kemudian adalah buah dari kejatuhan di taman Eden.

Setelah ilmu pengetahuan berkembang, ketika manusia semakin beradab, pada masa kini praktik-praktek ini sudah jarang kita temui. Tidak ada lagi istri yang menyerahkan budak/pembantunya kepada suaminya demi punya keturunan (mungkin masih ada di belahan bumi yang tidak saya ketahui), atau seorang suami yang menyerahkan istrinya demi bisnis (mungkin juga masih ada, hanya saya yang tidak pernah dengar) karena kita kurang lebih telah punya definisi bahwa cinta hanya dapat di-komitmen-kan pada satu orang saja. Tetapi apakah praktik-praktik menyimpang atas nama cinta telah tidak ada pada masa kini? Tidak, malah beranak pinak dan semakin banyak jenisnya, berkembang biak dan semakin jahat. Kita pasti pernah mendengar kisah tentang sepasang kekasih yang bersekongkol melakukan kejahatan, atau saling melukai secara fisik karena cemburu atau cinta tidak berbalas, semakin rumit dan kompleks.

Membaca kisah Abraham dan Sara menyadarkan kita akan satu fakta bahwa pembukitan cinta antar manusia akan berubah sesuai masa dan budaya di mana kita hidup, sebab kita tidak akan pernah punya definisi yang murni akan sesuatu, selalu saja ada titik-titik sesat dalam arti yang kita simpulkan. Tetapi Tuhan dan kasih-Nya dan praktik Kasih-Nya tidak berubah. Dia akan senantiasa membuktikan Cinta-Nya. Mungkin dalam pemahaman yang terbatas, kita tidak mengerti bahwa apa yang Dia lakukan adalah bukti kasih, tetapi yang perlu kita ingat senantiasa dan lantunkan dalam malam-malam pedih dan berat adalah Dia tidak pernah merancangkan kejahatan, hanya ada kasih di dalam Dia. 

Sedikit tambahan kepada sekalian yang sedang membaca: bila sedang menantikan hadirnya seseorang atau sedang mendamba pujaan hati. Ingatlah pun bila telah bertemu akan ada masa saling melukai atau terluka secara sepihak, dan itu adalah wajar, sejak masa dahulu ada Abraham dan Sara. Dalam bayang-bayang  galau di suatu malam nanti, ingatlah cinta yang didamba dari manusia tidak pantas merenggut jiwa sedalam-dalamnya sebab cinta jenis itu sangat rapuh, tidak mampu menghapus dahaga, dan bila kesadaran itu datang ingatlah janji-janji Tuhan yang manis yang menghapuskan dahaga dan rindu yang terdalam.

note: Abraham adalah bapa orang percaya, namanya masyur, saya tidak menyangkali hal itu. Dia adalah org yg menyerahkan anaknya demi bukti iman. Pada tulisan kali ini saya hanya hendak menyoroti responnya dalam satu aspek ini saja. Lalu Sara adalah perempuan yang setia, dia adalah perempuan yang menerima belaskasihan dari Tuhan.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Nahkoda dan kapalnya