Nahkoda dan kapalnya
Seorang nahkoda memutuskan untuk berlayar sejauh mungkin, dia ingin mengelilingi bumi.
Dalam perjalanan, dia sangat sering bertemu badai. Ada badai yang hebat, ada pula yang biasa.
Hingga, pada malam ke seratus lima puluh enam, kapalnya dihantam badai besar, gelombang dan angin sangat hebat.
Sang nahkoda malam itu sangat lelah. Dia memutuskan tidur sejenak, katanya dalam hati "sudah biasa aku menghadapi badai, sudah biasa pula aku melawannya. Kali ini saja, akan kubiarkan kapalku mengikuti permainannya. Lagi pula aku lelah berlayar sendiri, anggaplah aku berkawan badai sekarang"
Lalu Nahkoda itu turun ke geladak paling bawah, memutuskan tidur sejenak.
Tetapi badai semakin keras menghantam kapalnya dan akhirnya menabrak gunung es. Kapal itu hancur tak berbentuk.
Untunglah, sang nahkoda sempat menyelamatkan diri. Dia menggunakan puing kapal yang tersisa untuk menjadi pelampung.
Pagi itu adalag hari ke seratus lima puluh tujuh sang nahkoda berlayar. Setelah kapalnya hancur dan karam barulah nahkoda itu sadar bahwa dia tidak hanya bertanggung jawab pada dirinya saja tetapi kapalnya juga.
Kini dia seorang diri saja, diatas puing kapalnya dan diatas lautan bebas. Dia berpikir lagi "haruskah aku berenang kembali kerumah, atau pergi ketempat yang kutuju?"
Komentar
Posting Komentar